Kunci Jawaban PAI Kelas 4 Halaman 33 Cara Menjaga Kebersihan Badan Lingkungan dan Hati

masbejo.com-Berikut ini Kunci Jawaban PAI Kelas 4 Halaman 33 Cara Menjaga Kebersihan Badan Lingkungan dan Hati.

Aktivitasku

Bagaimana menjaga kebersihan?

Jawaban:

Cara Menjaga Kebersihan

1. Badan
Berdasarkan hasil penelitian pada Al Qur’an dan As Sunnah, diketahui bahwa perkara ini akan mendatangkan maslahat bagi agama dan kehidupan seseorang, di antaranya adalah akan memperindah diri dan membersihkan badan baik secara keseluruhan maupun sebagiannya. (Lihat Shohih Fiqhis Sunnah, I/97)

Ibnu Hajar rahimahullah berkata, bahwa sunnah fitrah ini akan mendatangkan faedah diniyyah dan duniawiyyah, di antaranya, akan memperindah penampilan, membersihkan badan, menjaga kesucian, menyelisihi simbol orang kafir, dan melaksanakan perintah syari’at.

Sebagian dari sunnah fitrah ini dapat dilihat dari hadits-hadits berikut ini.

Pertama: Hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْفِطْرَةُ خَمْسٌ الْخِتَانُ وَالِاسْتِحْدَادُ وَقَصُّ الشَّارِبِ وَتَقْلِيمُ الْأَظْفَارِ وَنَتْفُ الْآبَاطِ

“Ada lima macam fitrah , yaitu : khitan, mencukur bulu kemaluan, memotong kumis, memotong kuku, dan mencabut bulu ketiak.” (HR. Bukhari no. 5891 dan Muslim no. 258)

Kedua: Hadits dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

عَشْرٌ مِنْ الْفِطْرَةِ قَصُّ الشَّارِبِ وَإِعْفَاءُ اللِّحْيَةِ وَالسِّوَاكُ وَاسْتِنْشَاقُ الْمَاءِ وَقَصُّ الْأَظْفَارِ وَغَسْلُ الْبَرَاجِمِ وَنَتْفُ الْإِبِطِ وَحَلْقُ الْعَانَةِ وَانْتِقَاصُ الْمَاءِ قَالَ زَكَرِيَّاءُ قَالَ مُصْعَبٌ وَنَسِيتُ الْعَاشِرَةَ إِلَّا أَنْ تَكُونَ الْمَضْمَضَةَ

“Ada sepuluh macam fitrah, yaitu memotong kumis, memelihara jenggot, bersiwak, istinsyaq (menghirup air ke dalam hidung,-pen), memotong kuku, membasuh persendian, mencabut bulu ketiak, mencukur bulu kemaluan, istinja’ (cebok) dengan air.” Zakaria berkata bahwa Mu’shob berkata, “Aku lupa yang kesepuluh, aku merasa yang kesepuluh adalah berkumur.” (HR. Muslim no.261, Abu Daud no. 52, At Tirmidzi no. 2906, An Nasai 8/152, Ibnu Majah no. 293)

Meskipun dalam hadits di atas disebutkan sepuluh hal, namun sunnah fitrah tidaklah terbatas pada kesepuluh perkara di atas berdasarkan kaedah “Mahfumul ‘adad laysa bil hujjah” yaitu pemahaman terhadap jumlah bilangan tidaklah bisa menjadi hujjah (argumen). Di antara sunnah fitrah tersebut adalah:

a. Khitan

b. Istinja’ (cebok) dengan air

c. Bersiwak

d. Memotong kuku

e. Memotong kumis

f. Memelihara jenggot

g. Memotong bulu kemaluan

h. Mencabut bulu ketiak

i. Membasuh persendian (barojim) yaitu tempat melekatnya kotoran seperti sela-sela jari, ketiak, telinga, dll.

j. Berkumur-kumur dan istinsyaq (memasukkan air ke dalam hidung), juga termasuk istintsar (mengeluarkan air dari dalam hidung)

2. Lingkungan
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah melarang perbuatan merusak lingkungan hidup karena bisa membahayakan kehidupan manusia di muka bumi. Karena bumi yang kita tempati ini adalah milik Allâh Azza wa Jalla dan kita hanya diamanahkan untuk menempatinya sampai pada batas waktu yang telah Allâh Azza wa Jalla tetapkan. Oleh karena itu, manusia tidak boleh semena-mena mengeksplorasi alam tanpa memikirkan akibat yang muncul.

Baca Juga :  Jawaban Menyimak Laporan Hasil Observasi Berjudul Tonggeret

Syariat Islam sangat memperhatikan kelestarian alam, meskipun dalam jihâd fi sabîlillah. Kaum Muslimin tidak diperbolehkan membakar dan menebangi pohon tanpa alasan dan keperluan yang jelas.

Kerusakan alam dan lingkungan hidup yang kita saksikan sekarang ini merupakan akibat dari perbuatan umat manusia. Allâh Azza wa Jalla menyebutkan firmanNya :

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supaya Allâh merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). [ar-Rûm/30:41]

Menebang pohon, menggunduli hutan, membuang limbah ke sungai, membakar areal pesawahan dan lain-lainnya sudah jelas termasuk perbuatan merusak alam yang bisa mendatangkan bencana bagi umat manusia. Banjir bandang, kabut asap, pemanasan global adalah beberapa diantara akibatnya. Namun sadarkah kita, bahwa kerusakan alam bukan hanya karena faktor-faktor riil seperti itu saja. Kekufuran, syirik dan kemaksiatan juga punya andil dalam memperparah kerusakan alam. Bukankah banjir besar yang melanda kaum Nuh Alaihissallam disebabkan kekufuran dan penolakan mereka terhadap dakwah Nabi Nuh Alaihissallam? Bukankah bumi dibalikkan atas kaum Luth sehingga yang atas menjadi bawah dan yang bawah menjadi atas disebabkan kemaksiatan yang mereka lakukan ?

Cara menjaga kebersihan lingkungan

a. Membuang sampah pada tempatnya
Hal pertama yang harus dilakukan adalah membiasakan diri membuang sampah di tempatnya. Dengan membuang sampah di tempat yang seharusnya, akan meminimalisir terjadinya penumpukan sampah dan penyumbatan saluran air akibat endapan sampah.

b. Memisahkan sampah organik dan non organik
Hal kedua yang dapat dilakukam adalah dengan memisahkan sampah organik dan non organik. Kita bisa mendaur ulang dan mendayagunakan jenis sampah non organik seperti, botol bekas, kain perca, sedotan plastik, kertas bekas menjadi kerajinan tangan atau barang dengan nilai jual yang menjanjikan. Sedangkan untuk sampah organik, Anda bisa memanfaatkannya menjadi pupuk organik.

c. Menyapu dan mengepel lantai secara teratur
Merupakan salah satu cara untuk menjaga kebersihan rumah tinggal Anda. Cara ini bisa kita lakukan dengan mudah dan merupakan cara yang cukup efektif untuk menjaga lingkungan tempat kita tinggal. Menyapu dan mengepel lantai secara teratur akan membuat rumah terhindar dari bau yang tidak sedap dan semacamnya. Cukup dengan sapu, kain pel dan pengharum lantai, kita bisa menjadikan rumah menjadi tempat yang bersih, harum dan enak dipandang mata.

d. Membuang barang yang sudah tidak terpakai
Tidak baik menimbun atau menumpuk barang yang sudah tidak terpakai. Hal tersebut hanya akan membuat isi rumah terkesan penuh dan kotor. Maka dari itu, lakukan kegiatan bersih-bersih secara rutin serta memilah- milah barang-barang yang sudah tidak berguna atau tidak memiliki nilai guna. Jika memungkinkan, akan jauh lebih bagus mendaur ulang barang-barang tersebut menjadi barang yang memiliki nilai guna.

Baca Juga :  Kunci Jawaban PAI Kelas 10 Halaman 9 Wawasan Keislaman Tafsir Q.S. Al-Maidah/5:48

3. Hati
Hati yang bersih akan menuntun seseorang pada kebenaran. Selain itu, hati yang bersih juga membawa ketenteraman dan kebahagiaan. Hal ini tercantum dalam firman Allah SWT pada QS. Ar-Ra’d ayat 28.

ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ ٱللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ ٱللَّهِ تَطْمَئِنُّ ٱلْقُلُوبُ

Artinya: “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.”

Cara membersihkan hati untuk mencapai taubat agar hidup menjadi lebih tenteram dan dekat kepada Allah SWT.

a. Menyadari kesalahan
Menyadari berbagai kesalahan yang pernah dilakukan menjadi hal penting. Seseorang tidak akan bertaubat jika tidak menyadari kesalahannya dan tidak pernah merasa bersalah.

Agar bisa seperti itu, umat Islam sepatutnya memperdalam ajaran agamanya. Hal ini bertujuan agar umat Islam senantiasa menjalankan perintah Allah SWT dan menjauhi larangan-Nya.

b. Menyesali kesalahan
Jika seseorang hanya menyadari bahwa dirinya bersalah tanpa merasa menyesal, maka orang tersebut belum dikatakan bertobat dan hatinya belum bersih. Rasulullah SAW bersabda, “Menyesal itu adalah tobat.” (HR. Abu Daud dan Hakim)

c. Memohon ampunan kepada Allah SWT
Setelah menyadari kesalahan dan menyesalinya, maka orang tersebut harus memohon ampun kepada Allah SWT dengan memperbanyak istighfar. Semakin banyak beristighfar, hati akan semakin bersih. Sesuai dengan sabda Rasulullah SAW berikut:

“Tidak ada dosa yang besar dengan istighfar, dan tidak ada dosa yang kecil kalau diulang-ulang.” (HR. Thabrani)

d. Berjanji tidak mengulanginya
Berjanji untuk tidak mengulangi perbuatan buruk harus keluar dari hati nurani dengan jujur. Tidak hanya di mulut, tapi juga harus di dalam hati. Meskipun hanya dosa kecil, akan tetapi jika dilakukan secara berulang, tak menutup kemungkinan akan menjadi dosa besar.

e. Menutupi kesalahan masa lalu dengan memperbanyak amal shaleh

Tanda bahwa seseorang sungguh-sungguh dalam bertaubat (membersihkan hati) adalah menebus dosa dan kesalahan dengan memperbanyak amal shaleh. Sesuai dengan firman Allah SWT dalam QS. Hud ayat 114 yang berbunyi:

نَّ ٱلْحَسَنَٰتِ يُذْهِبْنَ ٱلسَّيِّـَٔاتِ ۚ ذَٰلِكَ ذِكْرَىٰ لِلذَّٰكِرِينَ

Artinya: “Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat.”

Imam Al Ghazali menyebutkan ada banyak amalan yang dapat menjaga kebersihan hati, lisan, dan perbuatan kita, di antaranya:

a. Menyegerakan Ibadah Wajib
Ibadah wajib salah satunya sangat dibatasi oleh waktu seperti ibadah haji hanya berlaku di bulan haji saja, puasa Ramadhan hanya berlaku di bulan Ramadhan saja. Demikian dengan shalat wajib lima waktu. Untuk itu ketika sudah memasuki waktunya, khususnya wajib maka segera tunaikan, jangan dinanti-nanti.

Baca Juga :  Jawaban Aktivitas 6.1 Halaman 129 Energi IPA Kelas 10 Kurikulum Merdeka

b. Memperbanyak ibadah sunnah
Hukum sunnah sendiri bermakna bila dikerjakan mendapat pahala dan ketika ditinggalkan tidak berdosa. Meski demikian bagi seorang yang tengah menuju tangga ketakwaan yang sempurna maka ibadah sunnah tidak adakan disepelekan.

c. Memperbanyak zikir
Imam Ghazali menjelaskan bahwa dzikir mengharuskan adanya rasa suka dan cinta kepada Allah Ta’ala. Maka tidak akan ada yang mengamalkannya kecuali jiwa yang dipenuhi rasa suka, dan cinta untuk selalu mengingat dan kembali kepada-Nya.

d. Tilawah Alquran
Setidaknya ada sepuluh amalan tilawah Alquran, yaitu:

1) memahami keagungan dan firman Allah

2) mengagungkan Allah

3) kehadiran hati dan meninggalkan bisikan jiwa

4) tadabbur

5) tafahhum (memahami secara mendalam)

6) meninggalkan hal-hal yang dapat menghalangi pemahaman

7) takhshish (menyadari diri sebagai sasaran yang dituju setiap nash dalam Al Quran

8) ta’atstsur (mengimbas ke dalam hati)

9) taraqqi (meningkatkan pemahaman)

10)tabarriy (melepaskan diri dari daya dan kekuatannya dan memandang kepada dirinya dengan pandangan rido dan tazkiyah).

e. Bergaul dalam lingkungan yang kondusif
Lingkungan yang kondusif maksudnya lingkungan yang senantiasa mengingatkan dengan kebaikan untuk menuju ketaqwaan Allah,bukan sebaliknya lingkungan yang penuh dengan kemaksiatan dan jauh dari rahmat Allah. Demikian juga dengan para penghuni leingkungan tersebut.

f. Mengingat kematian dan pendek angan-angan
Mengingat mati bukan berarti meminta kematian disegerakan, melainkan mempersiapkan bekal amal shalih setelah kematian menjemput. Hal ini karena kematian datangnya pasti kapan dan dimana pun berada namun waktunya yang tidak kita ketahui.

Sementara pendek angan-angan, kita tidak boleh banyak berandai-andai. “Andai jadi orang kaya akan banyak sedekah, andai sehat akan rajin ke masjid, dan sebagainya,” melainkan beramal shalih sesuai dengan kemampuan dan kesempatan yang ada.

g. Menghindari riya
Memang perkara hati adalah perkara yang sangat sulit dijaga terutama masalah ikhlas. Seseorang bisa jadi mencari dunia bertopengkan agama, sedangkan agama menjadi korban untuk dunia. Atau sudah ikhlas di awal-awal beramal, akan tetapi di pertengahan amal bisa jadi niat tercampur riya’, dan ia tidak berusaha melawan riya tersebut. Orang yang riya’ pahala amalnya akan sia-sia dan tidak bernilai. Sebagaimana orang yang bersedekah, tetapi hanya mengharapkan pujian dari manusia sebagai orang yang dermawan.

h. Menghindari jalan masuk setan
Di antaranya dengan menghindari marah dan syahwat, tidak dengki dan tamak, tidak kenyang dengan makanan sekalipun halal dan bersih. Tidak terburu-buru tanpa mengonfirmasi persoalan, tidak mengumpul-kumpulkan segala macam harta kekayaan, tidak bakhil dan takut miskin.

 

Demikian pembahasan Kunci Jawaban PAI Kelas 4 Halaman 33 Cara Menjaga Kebersihan Badan Lingkungan dan Hati. Semoga pembahasan diatas dapat bermanfaat.